Monday, December 3, 2012

Selingan: Godfather Mafia Italia di Kuta

Dia bak turis biasa. Sehari-hari memasak sendiri dan berjemur di Kuta.

Jakarta Jumat dini hari, 8 Desember 2012. Jalan Seminyak di depan penginapan Vila Puri-puri Kecil, Legian, Kuta, Bali, tampak lengang. Bangunan bernomor 25 yang memiliki sembilan vila itu juga sudah sepi.  Penghuninya kebanyakan sudah terlelap. Jarum jam menunjuk pukul dua subuh.

Mendadak, dari arah gerbang menderu masuk beberapa mobil, dan berhenti serentak di depan sebuah vila. Lima belas orang langsung turun dan mengepung. Ada yang berpakaian preman, ada juga yang berseragam polisi. Salah satunya langsung menggedor pintu. Tak ada jawaban dari dalam.

Dan… braakkk! Pintu pun didobrak. Seorang lelaki bule yang tengah tidur pulas, langsung terloncat bangun. Dia melongo, tergagap di tengah kepungan polisi.

Tanpa banyak bicara, lelaki bule berperawakan tinggi itu langsung diringkus. Dia tak melawan sama sekali .

Seisi vila pun gempar. Wayan, seorang pegawai yang menyaksikan peristiwa itu, tak kalah terkejut. “Semua begitu cepat: datang, sergap, lalu pergi," kata Wayan kepada wartawan VIVAnews.

Belakangan, ketika hari beranjak siang, Wayan baru tahu bahwa si bule yang digelandang polisi itu ternyata seorang gembong mafia dari Palermo, Sisilia, Italia. Namanya: Antonino Messicati Vitale, 40 tahun.

Godfather

Usut punya usut, Antonino rupanya sudah menjadi buronan polisi Italia sejak delapan bulan lalu. Ia dicari karena beberapa kasus. Salah satunya kasus penganiayaan yang menewaskan seseorang di Italia. Selain itu, juga karena sederet kejahatan kelas berat lain: peredaran narkotika, perdagangan manusia, dan jual-beli senjata ilegal.

Menurut harian La Sicilia, Antonino lahir di Palermo, Italia, 18 April 1972. Dia merupakan anak kandung Pietro Messicati Vitale, godfather Klan Villabate. Geng ini terkenal kejam tak berampun. Mereka sempat terlibat perang berdarah dengan kelompok mafia lain di Palermo pada tahun 1990an. Ketika itu puluhan orang tewas di jalan.

Pietro ditangkap pada tahun 1985. Polisi yang menangkapnya bernama Beppe Montana. Hanya selang beberapa hari, Beppe tewas dibunuh anak buah Pietro.  

Pada tahun 1988, Pietro menghirup udara bebas. Namun, baru 50 hari keluar penjara, dia ambruk diberondong timah panas. Dia ditembak anggota mafia dari klan lain saat menaiki sebuah skuter di dekat rumah peristirahatannya di Mongerbino, dekat Bagheria, Palermo. Lima peluru bersarang di tubuhnya. Usianya saat itu baru 41 tahun. (Lihat Pangeran Mafia dari Villabate)

Antonino pun “naik tahta”.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/12/14/184056_antonio-vitale_209_157.jpgAntonino Messicati Vitale saat bersantai di Kuta, Bali.

Perkenalan pertama Antonino dengan terali besi dimulai tahun 1995. Saat itu dia dicokok karena beberapa kasus, mulai dari pembunuhan sampai narkoba. Habis itu, dia keluar masuk penjara. Total jenderal, 10 tahun lamanya dia pernah menghuni bui. (Lihat Infografik: Godfather dari Villabate)

Terakhir, dia masuk penjara saat polisi Palermo menangkapi tokoh-tokoh mafia di Distrik Mismeri pada 17 April 2012. Antonino adalah salah satu yang diincar. Beberapa gembong mafia berhasil ditangkap, namun Antonino justru lolos.

Sejak itulah kisah pelariannya dimulai.

Polisi kemudian menggerebek rumah Antonino di Portella di Mare, Palermo. Rumah itu ditinggali Antonino, ibu, dan saudara perempuannya. Dari rumah ini polisi menyita sejumlah bukti, termasuk sebuah rekaman video dan sejumlah foto.

Video itu adalah rekaman perayaan ulang tahun Antonino yang ke-40, yang dirayakan sang buron pada 18 April 2012 lalu di tempat persembunyiannya. Di situ terlihat Antonino tengah makan-makan dengan sejumlah koleganya, diiringi musik yang dimainkan pemain biola dan gitar. Antonino sempat meminta mereka memainkan theme song film Godfather. Usai lagu itu dibawakan, Antonino pun bertepuk tangan dan berseru, “Bagus…!”

Terendus lewat IP

Selain video, polisi juga menemukan sejumlah foto Antonino. Saat itu dia tengah berpose di kolam renang. Tempatnya tampak eksotik. Namun, tak diketahui di mana lokasinya.

Polisi Palermo tak menyerah. Mereka menyadap telepon anggota keluarga Antonino. Juga, menguntit ke mana mereka bepergian. Dari beberapa orang yang dibuntuti, ternyata mereka terbang ke Bali.

Polisi Palermo pun menjejaki laptop Antonino. Hal itu diakui Kolonel Andrea Vitalone, Director Special Agent dari kepolisian Italia, yang turut dalam operasi penangkapan Antonino. Menurutnya, polisi Palermo mengetahui tempat persembunyian Antonino dari Internet Protocol (IP) address yang digunakannya.

Hal itu pun dikonfirmasikan petugas National Central Bureau Interpol Mabes Polri, Inspektur Satu Yudi Sroja. "Dari hasil pemeriksaan Tim IT polisi Italia, dia berada di Bali. Laptop yang bersangkutan disadap,” kata Yudi.

Untuk mempersiapkan operasi penangkapan, polisi Palermo langsung menerbangkan sejumlah agen mereka ke Indonesia. Mereka antara lain berbekal selembar foto yang memastikan keberadaan sang gembong mafia di Pulau Dewata.

Di situ, Antonino dipotret mengenakan kaca mata hitam, memakai celana pendek putih, dan bertelanjang dada. Dia tengah leyeh-leyeh tiduran di bangku pantai. Tangan kanannya memegang sebatang rokok. Sementara tangan kirinya memegang novel karya terbaru novelis terkenal Dan Brown berjudul “The Lost Symbol”.

Pada 30 November 2012, NCB Interpol Mabes Polri menerima red notice dari kepolisian Italia tentang keberadaan buronan itu. Sepekan sebelum penangkapan, Kolonel Andrea Vitalone berada di Jakarta untuk berkordinasi dengan Mabes Polri.

Setelah semua dipastikan, Andrea dan tiga perwira NCB Interpol Mabes Polri terbang ke Bali. Itu terjadi sehari sebelum penangkapan. “Setelah itu, esoknya, pagi dini hari, Antonino disergap," kata Kepala Unit Kejahatan Kekerasan Polda Bali, Komisaris Pande Putu Sugiarta.

Pelit

Kolonel Andrea mengatakan Antonino merupakan pentolan mafia paling dicari di Italia. "Dia mafia narkoba, perdagangan manusia, penjualan senjata ilegal, serta masih banyak kasus lain yang membelitnya," katanya.

Antonino sendiri baru kali pertama itu menginap di Vila Puri-puri Kecil yang dimiliki seorang warga Italia. Namun, keluarga Antonino rupanya sering menginap di sini. "Tahun ini rombongan keluarganya dari Italia datang menginap di sini. Saya tahu kalau mereka adalah keluarga Antonino, karena diceritakan Antonino sendiri," kata Made, resepsionis di vila itu saat berbincang dengan VIVAnews.

Dari catatan pengelola vila, Antonino check in pada 18 September 2012. Artinya, belum tiga bulan pria berperawakan kurus itu menginap di sini. Antonino menyewa kamar seharga Rp200 ribu per malam.

Made menjelaskan tiap tamu yang menginap di vilanya selalu dilaporkan kepada Polsek terdekat. Selama ini, dia sama sekali tak terdeteksi ada masalah, apalagi sebagai seorang buronan kakap. Antonino menggunakan paspor asli. Pembayaran juga selalu beres. Antonino sudah membayar uang sewa selama dua bulan, pakai kartu kredit.

Sepengetahuan Made, Antonino bukan tipe tamu yang cerewet. Dia sama sekali tak pernah memprotes kondisi vila tempat dia tinggal. Selama menginap, Antonino sama sekali tak mendapat telepon dari keluarga atau kerabatnya. Hanya saja, dua hari sebelum ditangkap, Antonino disambangi seseorang dari Italia. “Itu kali pertama kami melihat Antonino dikunjungi seseorang," kata Made.

Wayan, seorang petugas kebersihan Vila Puri-puri, juga begitu. Dia mengatakan sejak berjumpa pertama kali dengan Antonino, pada pertengahan September lalu ketika dia check-in, dia sama sekali tak menaruh curiga. Begitu pula dengan koleganya yang lain. Selama berinteraksi dengan karyawan vila, Antonino sama sekali tak menunjukkan kegarangannya sebagai gembong mafia tersohor.

Sepengetahuan Wayan, Antonino justru sangat baik dan ramah. Satu-satunya persoalan adalah ini: Antonino tergolong pelit. Tak sekalipun dia pernah memberi tip.

"Dia tidak pernah ngasih tip. Pelit orangnya," kenang Wayan.

Antonino selalu menyiapkan segala kebutuhannya sendiri, utamanya soal kudapan. Dia jarang membeli makanan yang langsung bisa disantap. Pria berkacamata itu memilih  memasak sendiri. Ia biasa berbelanja pada sore hari. Sambil melempar senyum, kata Wayan, dia selalu bilang “cooking… cooking…” kepada karyawan yang ditemuinya saat hendak memasak.

Yang tidak dia kerjakan sendiri adalah mencuci pakaian.  Untuk ini dia menggunakan jasa laundry.

Tiap kali membersihkan kamar Antonino, Wayan juga mengaku tak menemukan keganjilan apapun. Paling dia melihat Antonino menggunakan laptop. "Sering sekali saya lihat dia pakai laptop. Kalau HP saya hampir tak pernah lihat. Barang-barang lain tidak ada, selain tumpukan baju dan koper," kata Wayan.

Aktivitasnya juga bak turis kebanyakan. Dia sering menghabiskan waktu di luar, terutama untuk menikmati Pantai Kuta yang jaraknya cuma ratusan meter dari Vila Puri-puri Kecil.

Hingga akhirnya pada Jumat dini hari itu, Wayan dan karyawan vila lain terkejut alang-kepalang. Keramahan dan senyum sang turis seperti sirna. Saat digelandang polisi dengan tangan terborgol, wajah Sang Godfather terlihat begitu dingin, tanpa rasa takut, disaput kepulan asap dari rokok di bibirnya. (kd)

Pernah dibui 10 tahun. Lari dari Italia dicokok di Bali.

Pangeran Mafia dari Villabate

Menjadi bayang-bayang negara. Bagian sejarah kriminal Italia.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/12/14/184057_antonio-vitale_209_157.jpgAntonino Messicati Vitale, anggota mafia Italia ditangkap interpol di Bali, Jumat 7 Desember 2012. (Foto: www.gva.be)

Wajahnya tak mirip seorang yang bengis. Dia lebih mirip lelaki santun, dan mungkin alim. Antonino Messicati Vitale, dalam foto yang banyak dilansir media dunia, tampak rebahan santai. Dia berkacamata gelap, telanjang dada, dan bercelana pendek. Wajahnya terang disiram cahaya matahari. Tak diketahui lokasi pantai tempat foto itu dibuat.

Di jarinya terselip sebatang rokok, dan tangan satunya memegang novel karya Dan Brown, The Lost Symbol.

Antonino mungkin menikmati hidupnya seperti novel yang menegangkan itu. Dia dipercaya sebagai ‘Godfather” dari geng mafia paling ditakuti di Palermo, Silsilia, geng Villabate. Dia kerap memeras, menculik, atau membunuh lawannya.

Awal Desember 2012, petualangan itu berhenti di Bali. Sekian lama diburu Interpol karena kejahatannya, Antonino akhirnya dicokok polisi di sebuah villa di Kuta, dan kini dia menjadi tahanan Polda Bali.

Selama buron, Antonino tetap mengatur bisnisnya. Seorang penyidik di Italia mengatakan sang Godfather masih berkontak dengan keluarganya. “Dia masih mewakili keluarga mafia klan Villabate dalam beroperasi," kata sang penyidik mengutip kepala operasi polisi di Palermo, kepada media Italia, Palermo Today.

Antonino ditangkap di sebuah villa mewah di Jalan Basangkasa, Legian, Kuta, Bali pada Jumat dinihari, 7 Desember lalu. Dia dicari polisi atas kasus penganiayaan yang menewaskan seseorang pada 2011, dan diancam 24 tahun penjara.

Sebelum vonis dijatuhkan, Antonino kabur ke luar negeri pada 16 April silam. Sejak pelariannya itu, Antonino masuk dalam daftar mafia kelas kakap yang diburu polisi. Lama tak terlacak, lewat alat penyadap yang dipasang polisi di rumah keluarga Villabate, dan kawan-kawan Antonino, polisi mendapatkan jejaknya. Antonino rupanya sedang berada di Indonesia.

Dia tinggal selama enam bulan di Bali. Selama itu, Antonino tidak seperti pelarian. Dia seperti turis saja. Selama bersembunyi, dia bahkan sempat merayakan ulangtahunnya yang ke 40.

Ada yang istimewa di hari ulang tahun itu. Dia menyewa sejumlah pemusik. Mereka tampil di depan sang bos, yang meminta lagu khusus: sebuah theme song dari lagu film Godfather, film klasik tentang mafia karya Francis Ford Copolla itu. "Pada akhir lagu, bos memuji penampilan mereka," kata salah satu anggota mafia yang ditirukan polisi Italia. Antonino adalah pemimpin kelompok mafia Villabate. Pada 1990an, dia pernah terlibat perang berdarah antar geng di Palermo, Sicillia.

Sebagai bos mafia, dia menumpuk kekayaan yang besar. Menurut situs Quotidiano, pada 5 November 2012, polisi Palermo membongkar bisnis ilegal para mafia yang terdapat dalam berbagai perusahaan. Total aset mafia yang disita berjumlah 12 juta euro atau sekitar Rp150 miliar.

Aset itu berasal dari banyak bisnis haram mafia di berbagai usaha, seperti rumah judi, rekening bank, real estate, tanah, dan warung kopi. Penyitaan aset ini adalah tindak lanjut dari penangkapan 12 gembong mafia Villabate pada Juni 2009 lalu.

Antonino adalah “pangeran” mafia. Ayahnya, Pietro Messicati Vitale, adalah gembong besar mafia yang pernah diadili di pengadilan khusus mafia Cosa Nostra di Palermo, atau yang dikenal dengan pengadilan Maxi.

Pietro pernah ditangkap pada Juli 1985 oleh seorang polisi bernama Beppe Montana. Tidak berapa lama, polisi itu tinggal nama, menjadi korban balas dendam anak-anak buah Pietro. Ayah Antonino ini tewas dibunuh pada Juli 1988 ketika mengendarai skuter saat liburan di Mongerbino, dekat Bagheria.

Dari Pietro lah, darah mafia menurun ke putranya, Antonino. Meski masih muda, lelaki kelahiran 1972 ini lumayan bengal. Dia pernah beberapa kali ditangkap. Bahkan untuk kasus berat,  semisal pembunuhan, narkoba, perdagangan manusia, dan pemerasan. Pada 1995, dia pernah hampir divonis 10 tahun karena pembunuhan. Namun, dia berhasil bebas karena alasan teknis pengadilan.

Cosa Nostra

Di Sisilia, Antonino dan mafianya di Villabate itu, adalah sejarah panjang dunia kriminal di Italia. Kelompok mafia pertama muncul pada pertengahan abad ke 15. Bermula dari kelompok Cosa Nostra di Sisilia, wilayah selatan Italia, mafia melebarkan sayapnya ke seantero Italia. Mereka bahkan bercokol sampai ke benua Amerika.

Data FBI mencatat bahwa empat geng mafia bisa beranggotakan sekitar 25.000 orang, dengan sekutu sekitar 250.000 di seluruh dunia. Di Amerika Serikat sendiri, mafia memiliki anggota sekitar 3.000 orang, kebanyakan bermukim di wilayah utara, barat, California, dan selatan. Markas mereka terbesar adalah di New York, New Jersey dan Philadelphia.

Ada beberapa organisasi mafia paling besar di Italia, Cosa Nostra dari Sisilia, 'Ndrangheta dari Calabria, dan Camorra dari Naples. Ketiga kelompok ini paling tua, berdiri antara tahun 1500 dan 1800. Belakangan muncul organisasi baru, Stidda dan Sacra Corona dari Puglia.

Di tengah krisis ekonomi Eropa, mereka berjaya. Soalnya, negara lemah dan gagal menggerakkan ekonomi rakyat. Di saat bank-bank di Italia terancam bangkrut, para nasabah akhirnya lari ke para lintah darat berdasi, Cosa Nostra. Di tangan geng mafia itu, diduga ada uang tunai hingga 65 juta euro, atau Rp 770 miliar.

Pencucian uang melalui bank meningkat hingga 147 persen pada 2010-2011, demikian laporan bank Italia. Sebanyak 800 transaksi dilaporkan melibatkan mereka yang sedang ditahan, atau tengah disidik polisi atas aktivitas mafia. Sepertiga di antaranya dilaporkan dilakukan di Italia utara, wilayah yang seharusnya bebas dari kekuasaan mafioso.

Para mafioso memang menancapkan kukunya ke jejaring ekonomi, dan politik. Kekayaan mereka seakan menjadi bayang-bayang dari negara. Kelompok anti kriminal SOS Impresa, melaporkan pada Januari 2012 lalu, ada perputaran uang para mafioso sekitar 149 miliar euro atau lebih dari Rp1.600 triliun.

Jumlah itu setara tujuh persen produk domestik bruto Italia.(np)


0 comments:

Post a Comment