Wednesday, December 12, 2012

Internet Membuat Anak Mudah Depresi

Jakarta Penggunaan teknologi informasi seperti internet, jejaring social dan teknologi lain telah menghasilkan orang-orang yang mudah depresi. Mereka merasa kesepian, terisolasi dari pergaulan dan mulai menemui banyak masalah di keluarga, sekolah juga dunia kerja.

“Anak-anak juga mengalami kondisi serupa. Mudah depresi yang pada akhirnya mengarah pada gejala psikosomatis,” ujar Rustika Thamrin SPSi, Direktur Representative School of Emphaty (SOE), Sabtu (15/12).

Diakui saat ini banyak anak-anak yang kecanduan internet. Mereka tak segan-segan menghabiskan waktunya beselancar di dunia maya, meski harus melakukannya di warnet dengan biaya sewa yang tak sedikit.

Tak hanya itu, menurut Rustika, anak dan remaja tumbuh menjadi pribadi yang individualis, tidak peka, memilih bunuh diri, mogok sekolah, hingga maraknya bullying, tawuran dan bersemainya bibit-bibit korupsi. Mulai nampak gejala generasi yang memiliki banyak pengetahuan, namun miskin dalam kemampuan membangun interaksi sosial, tidak mampu berempati terhadap perasaan dan permasalahan diri sendiri serta orang lain.

Padahal, lanjut Rustika, kesuksesan dan kebahagiaan seseorang terbukti lebih ditentukan oleh kecerdasan emosi, sosial dan spiritual dibandingkan dengan kecerdasan intelektualnya. Sayangnya, nyaris tak ada mata pelajaran di sekolah yang khusus mengasah bentuk-bentuk kecerdasan tersebut.

Karena itu, Rustika melihat perlunya program yang menyenangkan yang bisa sekaligus mengembangkan empat bentuk kecerdasan, yaitu kecerdasan fisik, emosi, sosial dan spiritual. "Dalam konteks masyarakat kota Jakarta, diperlukan teknik intervensi berupa aktivitas kelompok, untuk melengkapi teknik konseling perorangan yang selama ini biasa dilakukan,” ungkap Rustika Thamrin Program School of Empathy (SOE) yang diinisiasi oleh YASEHATI Foundation, merupakan sebuah program pendidikan yang bertujuan meningkatkan kecerdasan emosi, social, spriritual bahkan kesehatan tubuh.

Ditambahkan oleh Tika, pendekatan yang dilakukan oleh School of Empathy, khususnya melalui teknik intervensi biodanza adalah pendekatan yang unik karena mengutamakan ekspresi diri dan auto regulasi dengan menggabungkan berbagai kekuatan antara lain kekuatan musik, kekuatan gerak/tari, dan kekuatan interaksi kelompok. Yang dikuatkan, dengan begitu adalah keterhubungan dan empathy antar individu, satu hal yang mulai mengalami problem dalam keseharian masyarakat kita. (inung)


Poskota

0 comments:

Post a Comment