Sunday, December 16, 2012

Gubernur Lemhannas Kritik McKinsey

Jakarta Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Budi Susilo Soepandji, melontarkan kritik pedas terhadap prediksi atau ramalan kemajuan ekonomi Indonesia yang dipublikasi Mckinsey Global Institute (MGI). Karena itu, dia mengingatkan agar kita lebih kritis menyikapi prediksi tersebut, meski secara umum cukup menggembirakan bagi nama baik Indonesia di mata internasional.

"Prediksi McKinsey itu sangat menjanjikan buat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tapi, dia tidak menyinggung bagaimana kita membangun persatuan atau menyatukan berbagai perbedaan yang sesungguhnya bisa mengubah predikasi itu jika aspek persatuan diabaikan," ujar Budi Susilo dalam acara coffe morning dengan para pemimpin redaksi di Lemhannas, Jumat (14/12).

Seperti diberitakan sebelumnya, pada akhir September - awal Oktober 2012, McKinsey menyebutkan pada tahun 2030 ekonomi Indonesia akan menempati posisi ke-7 Ekonomi Dunia mengalahkan Jerman dan Inggris. Pada tahun 2030 itu, perekonomian Indonesia akan di topang oleh empat sektor utama, yaitu bidang jasa, pertanian, dan perikanan, serta sumber daya alam. Ekonomi Indonesia juga akan terus tumbuh dengan didorong oleh kekuatan regional.

Dalam 15 tahun ke depan, 1,8 miliar orang kelas konsumsi di dunia sebagian besar akan berada di Asia. Dalam kesempatan itu, Gubernur menyinggung bahwa potensi SDM Indonesia tidak kalah dengan orang asing. Persoalannya bagaimana kita memberdayakan SDM untuk kemajuan bangsa. Potensi Kelautan Dalam acara coffe morning itu, tampil pula sejarawan Anhar Gonggong yang membahas soal Deklarasi Juanda 1957 yang menekankan posisi laut Indonesia yang dicanangkan PM Juanda Kartawidjaya.

Hari pencanangan Deklarasi itu dijadikan Hari Nusantara. Dalam acara tanya jawab, banyak dipertanyakan bagaimana peran dan fungsi negara maritim Indonesia tidak berjalan, bahkan animo masyarakat untuk mencintai laut pun makin berkurang. Baik Gubernur Lemhannas maupun Anhar Gonggong sepakat bahwa potensi kelautan Indonesia yang sangat besar harus benar-benar dimanfaatkan.

Namun, banyak kritik dilontarkan oleh peserta mengingat sampai saat ini tidak ada blue print tentang potensi kelautan Indonesia sehingga pemanfaatannya tidak maksimal. Dalam kaitan potensi kelautan ini, Gubernur Lemhannas juga menyinggung soal rencana pembangunan jembatan terpanjang yakni Jembatan Selat Sunda (JSS) yang mnghubungkan pulau Jawa dan Sumatera.

Menurut Budi Susilo, Lemhannas masih terus mengkaji , namun dirinya mengaku belum terlalu jauh untuk dapat memutuskan perlu tidaknya JSS, karena hal itu harus benarbenar dikaji dari berbagai sisi.

"Kalau ahli tehnik pasti mampu membangun jembatan terpanjang itu. Tapi, dari sisi aspek keamanan, kita kan tidak tahu apakah suatu ketika ada bom atau potensi bahaya," kata Budi Susilo.

0 comments:

Post a Comment