Saturday, December 29, 2012

Kisah Hidup dan Mati di Pesawat

Di penerbangan apapun bisa terjadi (Foto: News)Jakarta Sebagian besar orang pernah merasakan duka saat melakukan penerbangan. Bukan karena kecelakaan pesawat, melainkan meninggalnya salah seorang penumpang.

Meskipun jarang, beberapa penumpang telah menyaksikan kematian juga kelahiran saat penerbangan. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh situs wisata, Wego.

Laporan paling umum kematian di pesawat adalah serangan jantung. Bahkan, pernah ada pasangan pengantin baru yang mengalami serangan jantung ketika seluruh kru pesawat mendadak mengalami sakit perut akibat bakteri dan membuat panik penumpang lain.

Melihat serangan jantung ternyata dapat membuat penumpang lain ikut trauma. Seorang wisatawan melihat penumpang wanita di dekatnya saat di pesawat meninggal karena serangan jantung, setelahnya dia mengalami trauma selama enam tahun.

Untuk mengatasi kematian yang tak terduga ini, beberapa maskapai menyediakan kamar mayat di armadanya. Salah satunya adalah Singapore Airlines, yang memiliki kamar mayat di armada A340-500. Maskapai lain yang tidak memiliki fasilitas serupa, hanya memindahkan jenazah ke kursi cadangan dan ditutupi selimut hingga pesawat mendarat.

Selain kematian, proses kelahiran juga sering terjadi di pesawat. Maskapai sebenarnya memiliki peraturan khusus bagi para penumpang yang tengah hamil, namun tak pelak beberapa bayi pernah lahir juga di pesawat.

Salah satunya adalah penerbangan dari Darwin ke Sydney, dimana penerbangan tersebut terpaksa dialihkan karena seorang penumpangnya melahirkan di tengah perjalanan. Proses kelahiran itu dilakukan di lorong pesawat.

Menurut peraturan PBB, bayi yang lahir di udara mengambil kewarganegaraan negara di mana pesawat tersebut terdaftar, namun juga tetap mempertimbangkan kebangsaan orangtua.


Okezone

Monday, December 3, 2012

Selingan: Godfather Mafia Italia di Kuta

Dia bak turis biasa. Sehari-hari memasak sendiri dan berjemur di Kuta.

Jakarta Jumat dini hari, 8 Desember 2012. Jalan Seminyak di depan penginapan Vila Puri-puri Kecil, Legian, Kuta, Bali, tampak lengang. Bangunan bernomor 25 yang memiliki sembilan vila itu juga sudah sepi.  Penghuninya kebanyakan sudah terlelap. Jarum jam menunjuk pukul dua subuh.

Mendadak, dari arah gerbang menderu masuk beberapa mobil, dan berhenti serentak di depan sebuah vila. Lima belas orang langsung turun dan mengepung. Ada yang berpakaian preman, ada juga yang berseragam polisi. Salah satunya langsung menggedor pintu. Tak ada jawaban dari dalam.

Dan… braakkk! Pintu pun didobrak. Seorang lelaki bule yang tengah tidur pulas, langsung terloncat bangun. Dia melongo, tergagap di tengah kepungan polisi.

Tanpa banyak bicara, lelaki bule berperawakan tinggi itu langsung diringkus. Dia tak melawan sama sekali .

Seisi vila pun gempar. Wayan, seorang pegawai yang menyaksikan peristiwa itu, tak kalah terkejut. “Semua begitu cepat: datang, sergap, lalu pergi," kata Wayan kepada wartawan VIVAnews.

Belakangan, ketika hari beranjak siang, Wayan baru tahu bahwa si bule yang digelandang polisi itu ternyata seorang gembong mafia dari Palermo, Sisilia, Italia. Namanya: Antonino Messicati Vitale, 40 tahun.

Godfather

Usut punya usut, Antonino rupanya sudah menjadi buronan polisi Italia sejak delapan bulan lalu. Ia dicari karena beberapa kasus. Salah satunya kasus penganiayaan yang menewaskan seseorang di Italia. Selain itu, juga karena sederet kejahatan kelas berat lain: peredaran narkotika, perdagangan manusia, dan jual-beli senjata ilegal.

Menurut harian La Sicilia, Antonino lahir di Palermo, Italia, 18 April 1972. Dia merupakan anak kandung Pietro Messicati Vitale, godfather Klan Villabate. Geng ini terkenal kejam tak berampun. Mereka sempat terlibat perang berdarah dengan kelompok mafia lain di Palermo pada tahun 1990an. Ketika itu puluhan orang tewas di jalan.

Pietro ditangkap pada tahun 1985. Polisi yang menangkapnya bernama Beppe Montana. Hanya selang beberapa hari, Beppe tewas dibunuh anak buah Pietro.  

Pada tahun 1988, Pietro menghirup udara bebas. Namun, baru 50 hari keluar penjara, dia ambruk diberondong timah panas. Dia ditembak anggota mafia dari klan lain saat menaiki sebuah skuter di dekat rumah peristirahatannya di Mongerbino, dekat Bagheria, Palermo. Lima peluru bersarang di tubuhnya. Usianya saat itu baru 41 tahun. (Lihat Pangeran Mafia dari Villabate)

Antonino pun “naik tahta”.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/12/14/184056_antonio-vitale_209_157.jpgAntonino Messicati Vitale saat bersantai di Kuta, Bali.

Perkenalan pertama Antonino dengan terali besi dimulai tahun 1995. Saat itu dia dicokok karena beberapa kasus, mulai dari pembunuhan sampai narkoba. Habis itu, dia keluar masuk penjara. Total jenderal, 10 tahun lamanya dia pernah menghuni bui. (Lihat Infografik: Godfather dari Villabate)

Terakhir, dia masuk penjara saat polisi Palermo menangkapi tokoh-tokoh mafia di Distrik Mismeri pada 17 April 2012. Antonino adalah salah satu yang diincar. Beberapa gembong mafia berhasil ditangkap, namun Antonino justru lolos.

Sejak itulah kisah pelariannya dimulai.

Polisi kemudian menggerebek rumah Antonino di Portella di Mare, Palermo. Rumah itu ditinggali Antonino, ibu, dan saudara perempuannya. Dari rumah ini polisi menyita sejumlah bukti, termasuk sebuah rekaman video dan sejumlah foto.

Video itu adalah rekaman perayaan ulang tahun Antonino yang ke-40, yang dirayakan sang buron pada 18 April 2012 lalu di tempat persembunyiannya. Di situ terlihat Antonino tengah makan-makan dengan sejumlah koleganya, diiringi musik yang dimainkan pemain biola dan gitar. Antonino sempat meminta mereka memainkan theme song film Godfather. Usai lagu itu dibawakan, Antonino pun bertepuk tangan dan berseru, “Bagus…!”

Terendus lewat IP

Selain video, polisi juga menemukan sejumlah foto Antonino. Saat itu dia tengah berpose di kolam renang. Tempatnya tampak eksotik. Namun, tak diketahui di mana lokasinya.

Polisi Palermo tak menyerah. Mereka menyadap telepon anggota keluarga Antonino. Juga, menguntit ke mana mereka bepergian. Dari beberapa orang yang dibuntuti, ternyata mereka terbang ke Bali.

Polisi Palermo pun menjejaki laptop Antonino. Hal itu diakui Kolonel Andrea Vitalone, Director Special Agent dari kepolisian Italia, yang turut dalam operasi penangkapan Antonino. Menurutnya, polisi Palermo mengetahui tempat persembunyian Antonino dari Internet Protocol (IP) address yang digunakannya.

Hal itu pun dikonfirmasikan petugas National Central Bureau Interpol Mabes Polri, Inspektur Satu Yudi Sroja. "Dari hasil pemeriksaan Tim IT polisi Italia, dia berada di Bali. Laptop yang bersangkutan disadap,” kata Yudi.

Untuk mempersiapkan operasi penangkapan, polisi Palermo langsung menerbangkan sejumlah agen mereka ke Indonesia. Mereka antara lain berbekal selembar foto yang memastikan keberadaan sang gembong mafia di Pulau Dewata.

Di situ, Antonino dipotret mengenakan kaca mata hitam, memakai celana pendek putih, dan bertelanjang dada. Dia tengah leyeh-leyeh tiduran di bangku pantai. Tangan kanannya memegang sebatang rokok. Sementara tangan kirinya memegang novel karya terbaru novelis terkenal Dan Brown berjudul “The Lost Symbol”.

Pada 30 November 2012, NCB Interpol Mabes Polri menerima red notice dari kepolisian Italia tentang keberadaan buronan itu. Sepekan sebelum penangkapan, Kolonel Andrea Vitalone berada di Jakarta untuk berkordinasi dengan Mabes Polri.

Setelah semua dipastikan, Andrea dan tiga perwira NCB Interpol Mabes Polri terbang ke Bali. Itu terjadi sehari sebelum penangkapan. “Setelah itu, esoknya, pagi dini hari, Antonino disergap," kata Kepala Unit Kejahatan Kekerasan Polda Bali, Komisaris Pande Putu Sugiarta.

Pelit

Kolonel Andrea mengatakan Antonino merupakan pentolan mafia paling dicari di Italia. "Dia mafia narkoba, perdagangan manusia, penjualan senjata ilegal, serta masih banyak kasus lain yang membelitnya," katanya.

Antonino sendiri baru kali pertama itu menginap di Vila Puri-puri Kecil yang dimiliki seorang warga Italia. Namun, keluarga Antonino rupanya sering menginap di sini. "Tahun ini rombongan keluarganya dari Italia datang menginap di sini. Saya tahu kalau mereka adalah keluarga Antonino, karena diceritakan Antonino sendiri," kata Made, resepsionis di vila itu saat berbincang dengan VIVAnews.

Dari catatan pengelola vila, Antonino check in pada 18 September 2012. Artinya, belum tiga bulan pria berperawakan kurus itu menginap di sini. Antonino menyewa kamar seharga Rp200 ribu per malam.

Made menjelaskan tiap tamu yang menginap di vilanya selalu dilaporkan kepada Polsek terdekat. Selama ini, dia sama sekali tak terdeteksi ada masalah, apalagi sebagai seorang buronan kakap. Antonino menggunakan paspor asli. Pembayaran juga selalu beres. Antonino sudah membayar uang sewa selama dua bulan, pakai kartu kredit.

Sepengetahuan Made, Antonino bukan tipe tamu yang cerewet. Dia sama sekali tak pernah memprotes kondisi vila tempat dia tinggal. Selama menginap, Antonino sama sekali tak mendapat telepon dari keluarga atau kerabatnya. Hanya saja, dua hari sebelum ditangkap, Antonino disambangi seseorang dari Italia. “Itu kali pertama kami melihat Antonino dikunjungi seseorang," kata Made.

Wayan, seorang petugas kebersihan Vila Puri-puri, juga begitu. Dia mengatakan sejak berjumpa pertama kali dengan Antonino, pada pertengahan September lalu ketika dia check-in, dia sama sekali tak menaruh curiga. Begitu pula dengan koleganya yang lain. Selama berinteraksi dengan karyawan vila, Antonino sama sekali tak menunjukkan kegarangannya sebagai gembong mafia tersohor.

Sepengetahuan Wayan, Antonino justru sangat baik dan ramah. Satu-satunya persoalan adalah ini: Antonino tergolong pelit. Tak sekalipun dia pernah memberi tip.

"Dia tidak pernah ngasih tip. Pelit orangnya," kenang Wayan.

Antonino selalu menyiapkan segala kebutuhannya sendiri, utamanya soal kudapan. Dia jarang membeli makanan yang langsung bisa disantap. Pria berkacamata itu memilih  memasak sendiri. Ia biasa berbelanja pada sore hari. Sambil melempar senyum, kata Wayan, dia selalu bilang “cooking… cooking…” kepada karyawan yang ditemuinya saat hendak memasak.

Yang tidak dia kerjakan sendiri adalah mencuci pakaian.  Untuk ini dia menggunakan jasa laundry.

Tiap kali membersihkan kamar Antonino, Wayan juga mengaku tak menemukan keganjilan apapun. Paling dia melihat Antonino menggunakan laptop. "Sering sekali saya lihat dia pakai laptop. Kalau HP saya hampir tak pernah lihat. Barang-barang lain tidak ada, selain tumpukan baju dan koper," kata Wayan.

Aktivitasnya juga bak turis kebanyakan. Dia sering menghabiskan waktu di luar, terutama untuk menikmati Pantai Kuta yang jaraknya cuma ratusan meter dari Vila Puri-puri Kecil.

Hingga akhirnya pada Jumat dini hari itu, Wayan dan karyawan vila lain terkejut alang-kepalang. Keramahan dan senyum sang turis seperti sirna. Saat digelandang polisi dengan tangan terborgol, wajah Sang Godfather terlihat begitu dingin, tanpa rasa takut, disaput kepulan asap dari rokok di bibirnya. (kd)

Pernah dibui 10 tahun. Lari dari Italia dicokok di Bali.

Pangeran Mafia dari Villabate

Menjadi bayang-bayang negara. Bagian sejarah kriminal Italia.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/12/14/184057_antonio-vitale_209_157.jpgAntonino Messicati Vitale, anggota mafia Italia ditangkap interpol di Bali, Jumat 7 Desember 2012. (Foto: www.gva.be)

Wajahnya tak mirip seorang yang bengis. Dia lebih mirip lelaki santun, dan mungkin alim. Antonino Messicati Vitale, dalam foto yang banyak dilansir media dunia, tampak rebahan santai. Dia berkacamata gelap, telanjang dada, dan bercelana pendek. Wajahnya terang disiram cahaya matahari. Tak diketahui lokasi pantai tempat foto itu dibuat.

Di jarinya terselip sebatang rokok, dan tangan satunya memegang novel karya Dan Brown, The Lost Symbol.

Antonino mungkin menikmati hidupnya seperti novel yang menegangkan itu. Dia dipercaya sebagai ‘Godfather” dari geng mafia paling ditakuti di Palermo, Silsilia, geng Villabate. Dia kerap memeras, menculik, atau membunuh lawannya.

Awal Desember 2012, petualangan itu berhenti di Bali. Sekian lama diburu Interpol karena kejahatannya, Antonino akhirnya dicokok polisi di sebuah villa di Kuta, dan kini dia menjadi tahanan Polda Bali.

Selama buron, Antonino tetap mengatur bisnisnya. Seorang penyidik di Italia mengatakan sang Godfather masih berkontak dengan keluarganya. “Dia masih mewakili keluarga mafia klan Villabate dalam beroperasi," kata sang penyidik mengutip kepala operasi polisi di Palermo, kepada media Italia, Palermo Today.

Antonino ditangkap di sebuah villa mewah di Jalan Basangkasa, Legian, Kuta, Bali pada Jumat dinihari, 7 Desember lalu. Dia dicari polisi atas kasus penganiayaan yang menewaskan seseorang pada 2011, dan diancam 24 tahun penjara.

Sebelum vonis dijatuhkan, Antonino kabur ke luar negeri pada 16 April silam. Sejak pelariannya itu, Antonino masuk dalam daftar mafia kelas kakap yang diburu polisi. Lama tak terlacak, lewat alat penyadap yang dipasang polisi di rumah keluarga Villabate, dan kawan-kawan Antonino, polisi mendapatkan jejaknya. Antonino rupanya sedang berada di Indonesia.

Dia tinggal selama enam bulan di Bali. Selama itu, Antonino tidak seperti pelarian. Dia seperti turis saja. Selama bersembunyi, dia bahkan sempat merayakan ulangtahunnya yang ke 40.

Ada yang istimewa di hari ulang tahun itu. Dia menyewa sejumlah pemusik. Mereka tampil di depan sang bos, yang meminta lagu khusus: sebuah theme song dari lagu film Godfather, film klasik tentang mafia karya Francis Ford Copolla itu. "Pada akhir lagu, bos memuji penampilan mereka," kata salah satu anggota mafia yang ditirukan polisi Italia. Antonino adalah pemimpin kelompok mafia Villabate. Pada 1990an, dia pernah terlibat perang berdarah antar geng di Palermo, Sicillia.

Sebagai bos mafia, dia menumpuk kekayaan yang besar. Menurut situs Quotidiano, pada 5 November 2012, polisi Palermo membongkar bisnis ilegal para mafia yang terdapat dalam berbagai perusahaan. Total aset mafia yang disita berjumlah 12 juta euro atau sekitar Rp150 miliar.

Aset itu berasal dari banyak bisnis haram mafia di berbagai usaha, seperti rumah judi, rekening bank, real estate, tanah, dan warung kopi. Penyitaan aset ini adalah tindak lanjut dari penangkapan 12 gembong mafia Villabate pada Juni 2009 lalu.

Antonino adalah “pangeran” mafia. Ayahnya, Pietro Messicati Vitale, adalah gembong besar mafia yang pernah diadili di pengadilan khusus mafia Cosa Nostra di Palermo, atau yang dikenal dengan pengadilan Maxi.

Pietro pernah ditangkap pada Juli 1985 oleh seorang polisi bernama Beppe Montana. Tidak berapa lama, polisi itu tinggal nama, menjadi korban balas dendam anak-anak buah Pietro. Ayah Antonino ini tewas dibunuh pada Juli 1988 ketika mengendarai skuter saat liburan di Mongerbino, dekat Bagheria.

Dari Pietro lah, darah mafia menurun ke putranya, Antonino. Meski masih muda, lelaki kelahiran 1972 ini lumayan bengal. Dia pernah beberapa kali ditangkap. Bahkan untuk kasus berat,  semisal pembunuhan, narkoba, perdagangan manusia, dan pemerasan. Pada 1995, dia pernah hampir divonis 10 tahun karena pembunuhan. Namun, dia berhasil bebas karena alasan teknis pengadilan.

Cosa Nostra

Di Sisilia, Antonino dan mafianya di Villabate itu, adalah sejarah panjang dunia kriminal di Italia. Kelompok mafia pertama muncul pada pertengahan abad ke 15. Bermula dari kelompok Cosa Nostra di Sisilia, wilayah selatan Italia, mafia melebarkan sayapnya ke seantero Italia. Mereka bahkan bercokol sampai ke benua Amerika.

Data FBI mencatat bahwa empat geng mafia bisa beranggotakan sekitar 25.000 orang, dengan sekutu sekitar 250.000 di seluruh dunia. Di Amerika Serikat sendiri, mafia memiliki anggota sekitar 3.000 orang, kebanyakan bermukim di wilayah utara, barat, California, dan selatan. Markas mereka terbesar adalah di New York, New Jersey dan Philadelphia.

Ada beberapa organisasi mafia paling besar di Italia, Cosa Nostra dari Sisilia, 'Ndrangheta dari Calabria, dan Camorra dari Naples. Ketiga kelompok ini paling tua, berdiri antara tahun 1500 dan 1800. Belakangan muncul organisasi baru, Stidda dan Sacra Corona dari Puglia.

Di tengah krisis ekonomi Eropa, mereka berjaya. Soalnya, negara lemah dan gagal menggerakkan ekonomi rakyat. Di saat bank-bank di Italia terancam bangkrut, para nasabah akhirnya lari ke para lintah darat berdasi, Cosa Nostra. Di tangan geng mafia itu, diduga ada uang tunai hingga 65 juta euro, atau Rp 770 miliar.

Pencucian uang melalui bank meningkat hingga 147 persen pada 2010-2011, demikian laporan bank Italia. Sebanyak 800 transaksi dilaporkan melibatkan mereka yang sedang ditahan, atau tengah disidik polisi atas aktivitas mafia. Sepertiga di antaranya dilaporkan dilakukan di Italia utara, wilayah yang seharusnya bebas dari kekuasaan mafioso.

Para mafioso memang menancapkan kukunya ke jejaring ekonomi, dan politik. Kekayaan mereka seakan menjadi bayang-bayang dari negara. Kelompok anti kriminal SOS Impresa, melaporkan pada Januari 2012 lalu, ada perputaran uang para mafioso sekitar 149 miliar euro atau lebih dari Rp1.600 triliun.

Jumlah itu setara tujuh persen produk domestik bruto Italia.(np)


Thursday, November 15, 2012

Pejuang Kanker


Warsito, Ilmuwan Penemu Alat Pembunuh Kanker

Alat terapi kanker berbasis listrik statis temuan seorang peneliti Indonesia bernama, Warsito, sudah banyak pasien yang disembuhkannya, bahkan hingga ke luar negeri.

Dr. Warsito P. Taruno, M.Eng (55), merupakan salah seorang peneliti Indonesia yang pernah berkarier di Shizuoka University, Jepang, sebagai dosen.

Semula ia dikenal sebagai ahli tomografi yaitu, ilmu atau teknologi tentang cara “melihat” reaksi dalam reaktor baja atau bejana tak tembus cahaya.

Namun karena begitu kuatnya dorongan untuk membantu Suwarni, kakak perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV, Warsito kemudian berusaha membuat alat pembunuh sel kanker.

Alhasil, terciptalah alat terapi yang disebut, breast cancer electro capacitive therapy. Bentuk alat terapinya ini, kata Warsito, mirip bra yang di dalamnya mengandung aliran listrik statis dari baterai yang bisa di-charge.

“Alat ini menggunakan teknologi pemindai atau tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis (electrical capacitance volume tomography/ECVT),” jelasnya kepada Beritasatu.com sembari menunjukkan beberapa bentuk alat terapi kanker temuannya itu.

Kakak Menderita Kanker Payudara

Alat tersebut, lanjut Warsito, digunakan sang kakak 24 jam selama sebulan. Minggu pertama memakai bra berwarna hitam tersebut, Suwarni mulai merasakan adanya efek samping, tapi tak sampai menyiksa seperti proses kemoterapi.

“Hanya saja kakak saya merasa gerah, keringatnya jadi berlendir dan sangat bau. Nggak cuma itu, urin dan fesesnya (kotoran) pun baunya lebih busuk. Tapi nggak perlu khawatir, karena ini menandakan sel-sel kanker yang sudah dihancurkan oleh alat terapinya itu sedang dikeluarkan atau detoksifikasi,” jelas doktor lulusan Universitas Shizuoka, Jepang ini.

Setelah satu bulan memakai alat tersebut, kata Warsito, tak disangka hasil tes laboratorium menyatakan bahwa Suwarni negatif kanker. Dan, sebulan kemudian dinyatakan bersih dari sel kanker. Betapa bahagianya Warsito, ternyata kerja kerasnya membuahkan hasil yang sangat menggembirakan.

Tak hanya sang kakak yang berhasil ditolongnya, seorang pemuda yang lumpuh total akibat menderita kanker otak stadium lanjut pun merasakan manfaat dari alat terapinya itu.

Alat terapi berbentuk helmet yang cara kerjanya sama seperti yang digunakan kakaknya itu dipakai pemuda tersebut selama sebulan, tahun lalu. “Pada tiga hari awal pemakaian alatnya, tingkat emosi pasien meningkat. Selanjutnya, muncul gejala seperti, keringat berlendir hingga feses yang baunya lebih busuk,” jelas Warsito yang berpraktik di Jln. Hartono Raya, R 28, Modernland Tangerang.

Syukurlah setelah seminggu menggunakan alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kakinya. Dan, setelah dua bulan pemakaian alat terapi, pasiennya sudah dinyatakan sembuh total.

Dikenal Hingga ke Luar Negeri

Beranjak dari keberhasilan itulah Warsito kemudian didatangi begitu banyak penderita kanker. Tak hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Bentuk alat terapinya pun kini bervariasi, disesuaikan dengal letak kanker yang diderita pasien. Ada yang berbentuk korset, rompi, celana, masker, selimut dan masih banyak lagi.

“Masker dipakai untuk kanker mulut. Sementara selimut dipakai bila sel kankernya sudah menyebar kemana-mana,” imbuh lelaki kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah ini.

Keberhasilan Warsito tersebut ternyata juga menjadi perhatian dunia internasional. Salah satunya adalah The University of King Abdulaziz, Saudi Arabia. Universitas yang berlokasi di kota Jeddah itu sudah memesan breast activity scanner dan brain activity scanner.

Selain itu, sebuah rumah sakit besar di India pun memesan sejumlah alat terapi kanker payudara ciptaan Warsito setelah melakukan test clinical di negara tersebut, tahun lalu.

Tak hanya itu, sejumlah dokter dari Belgia juga sudah menyatakan keinginannya menggunakan alat pembunuh kanker temuan Warsito untuk pengobatan di salah satu negara Eropa itu.

Kemenkes Menyambut Positif

Warsito mengaku, alat terapi kankernya ini kini sedang dalam proses sertifikasi oleh Balitbang, Kementerian Kesehatan.

Dia mengatakan, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran.

Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, lanjut Warsito, alat terapinya itu juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya. “Yang pasti ini akan mengubah metode pengobatan yang selama ini menggunakan radiasi berisiko tinggi dan berbiaya mahal,” kata lelaki yang melakukan post doctoral di Ohio University, Amerika ini.

Menanggapi temuannya tersebut, dr Abidinsyah Siregar, DHSM, M.Kes, Direktur Bina Tradisional, Alternatif dan Komplementer dari Kemenkes, menyambut positif inisiatif atau terobosan yang dilakukan oleh Warsito.

“Saya sangat senang ada warga negara seperti Warsito yang melakukan inisiatif atau terobosan seperti ini. Bagaimanapun ia mempunyai hak yang sama untuk melakukan berbagai temuan yang terkait dengan upaya kesehatan, termasuk yang sifatnya non-konvensional,” jelasnya kepada Beritasatu.com, saat ditemui di Kemenkes, Jumat (14/12).

Namun, lanjut Abidinsyah, untuk bisa diakui atau mendapatkan izin edar, memang ada beberapa standar atau kriteria yang harus dipenuhi meliputi: keamanan, bermanfaat dan berkualitas, karena dibuat dengan cara yang benar.

“Saya pikir beliau (Warsito) bisa melakukan itu semua, apalagi sebagai seorang peneliti dia pasti tau teori-teorinya. Kita saja yang memang belum melakukan terobosan seperti cara dia,” jelas Abidinsyah.

 

Menjadi Ibu yang Kuat untuk Tisha Si "Survivor" Cilik

Menjadi sosok pendukung pasien penyakit berat bukan pekerjaan yang mudah. Emosi, tenaga, dan segala hal lainnya juga terkuras.

Dua hari sebelum Tisha E merayakan hari ulang tahun pertama, ibundanya, Toety Hartono menerima kabar tak menyenangkan. Sang putri mengidap penyakit langka, bernama Wilms' Tumor. Bersama putrinya yang belum bisa bicara, sang ibu harus turut berjuang melawan penyakit yang berpotensi tumbuh kembali dan membuat hidup anaknya tak bisa sama seperti kebanyakan anak seusianya.

Selain pengobatan, semangat juang, dan tenaga medis yang baik, salah satu aspek penting dalam penyembuhan penyakit adalah support dari orang-orang terkasih. Menjadi orang yang membantu mereka yang sedang mengidap penyakit berat bukan perkara mudah. Hal tersebut ditempuh dan masih dijalani Toety untuk anaknya.

Dituturkan Toety, anak keduanya, Tisha, mengidap penyakit Wilms' Tumor, tumor yang tumbuh di sekitar ginjal anak-anak. Menurut keterangan dokter yang didatangi Toety, penyakit ini hanya dialami 1000:1 anak di dunia. Kondisi ini mengakibatkan ginjal di sisi kanan Tisha tidak bisa bertumbuh seperti ginjal umumnya, sementara tumor yang ada di dekat ginjalnya terus bertumbuh. Hal ini terjadi karena kelainan pada tubuh, bukan keturunan/masalah genetik. Di dalam tubuh mungil Tisha, tumor itu bertumbuh hingga 500 gram, sebesar buah mangga, digambarkan Toety.

Bukan benjolan yang membuat Toety curiga dengan kondisi Tisha. Muntah berkali-kali setiap Tisha diberi makan yang membuat Toety khawatir. Meski dokter hanya mengatakan itu hal biasa, insting Toety berkata lain dan mencari pendapat kedua. Dokter kedualah yang memberitahu penyakit yang menggerogoti tubuh mungil putrinya.

"Sejak menjalani proses semua ini, masa paling berat yang saya lewati adalah setelah mendengar vonis dokter. Semua emosi bercampur aduk. Marah, denial (penyangkalan), kesal, takut, semua bercampur aduk. Sempat pula mencari kambing hitam. Saya sempat menuding suami yang membawa gen ini kepada anak, karena ada anggota keluarganya yang mengalami kanker. Saya juga bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan kejadiain ini terjadi kepada keluarga kami," kata Toety kepada Beritasatu.com, di kediaman Toety di bilangan Karawaci.

Kondisi tubuh anaknya yang terus menurun dan sulit menerima makanan mengharuskan dilakukan tindakan cepat. Dokter yang ditemui di Jakarta menyarankan agar Tisha dirawat dan dioperasi di rumah sakit khusus di Singapura. Ke sanalah Toety bersama suami dan kedua anaknya berangkat. Berharap kesembuhan.

"Setelah operasi 8 jam, tumornya berhasil diangkat, bersama ginjal kanan Tisha," terang Toety.

Namun, ini bukan berarti perjuangan Tisha, Toety, dan keluarganya melawan penyakit ini selesai. Perjuangannya masih panjang. Menurut dokter, masih ada kemungkinan penyakit ini tumbuh, Tisha masih harus menjalani beragam tahap pengobatan, pemeriksaan, dan menjalani gaya hidup yang tak bisa sebebas anak lainnya.

Setelah operasi, terdapat sisa jahitan pada tubuh Tisha, cukup besar. Namun, dalam waktu dua hari, dengan kondisi luka masih basah, dokter meminta Tisha untuk melatih jalan. "Organ tubuh di dalamnya vakum selama 2 hari. Harus dilatih supaya terbiasa kembali. Kami melatih jalan Tisha di lorong rumah sakit. Dia jalan tertatih, perutnya masih sakit. Dia jalan sambil membungkuk menahan sakit. Sulit untuk menahan tangis. Kalau bisa, saya saja yang mengalami apa yang dia alami," tutur Toety.

Belum berhenti di situ, selama sebulan, dokter mengharuskan Tisha menjalani kemoterapi sebanyak 13 kali untuk memastikan tumornya tidak tumbuh lagi. Dengan jarak waktu yang sangat dekat. Tubuhnya yang masih kecil dan ringkih membuatnya tak bisa menerima jarum suntik kemoterapi berulang. Terpaksa, dipasang alat khusus sebagai jalur masuk cairan kemoterapi. Bentuknya bulat, dipasang dengan cara melubangi dada Tisha, dan ada selang kecil khusus yang menjadl saluran cairan kemoterapi menjalar ke tubuh Tisha.

Walau fungsinya untuk kesehatan, tetapi obat kemoterapi punya efek samping yang keras. "Menurut dokter, kemoterapi juga bisa merusak sel-sel yang sehat. Alhasil, ada sel-sel dalam tubuh Tisha yang juga terkena dampak, salah satu efek paling menyakitkan untuk saya lihat adalah rambutnya yang rontok begitu banyak. Karenanya saya putuskan untuk memangkas habis rambutnya," tutur Toety.

Selain terkuras daya emosi, Toety mengakui, pengobatan antara Jakarta-Singapura turut menguras dana. Dukungan keluarga memang mengalir, namun tetap butuh tambahan. Toety dan suaminya pun sempat mencari bantuan ke suatu lembaga amal untuk bantuan biaya rumah sakit di Singapura. Dalam keadaan sesak, bantuan yang diberikan serasa memberi napas bantuan.

Mengubah Hidup

Tiga tahun sudah sejak Tisha dioperasi dan harus melewati masa-masa sulit itu. Berat badannya yang sempat turun drastis ketika berusia 2 tahun itu kini sudah jauh lebih berisi. Ia tumbuh menjadi gadis periang yang senang menyanyi, berdandan, juga balet. Meski sayangnya, minat yang terakhir, dan beberapa aktivitas terkait gerak fisik yang ekstra terpaksa ditangguhkan, karena hanya memiliki 1 ginjal, fisik Tisha tak boleh terlalu lelah. Ia harus menjaga kondisi badan tetap fit. Selain tak boleh lelah, makanan Tisha juga harus dijaga.

"Tisha harus makan makanan yang segar, tidak boleh berpemanis buatan, tidak boleh memakai penyedap rasa, dan harus yang baru dibuat. Air kemasan pun sebisa mungkin direbus lagi baru diberi ke Tisha," jelas Toety.

Semua makanan Tisha harus dipastikan aman dan steril. Hal ini kemudian menjadi pusat perhatian Toety, yang akhirnya mengadopsikan kebiasaan ini ke seluruh keluarga. "Saya masak yang diinginkan Tisha dan kakaknya (Marciano E), biasanya kukus, kalau pun digoreng, minyaknya sangat sedikit. Es krim pun Tisha tidak boleh. Kalau kakaknya mau, kita harus ngumpet-ngumpet, supaya Tisha tidak penasaran dan minta cicip. Gaya hidup di rumah, khususnya untuk urusan makanan, jadi berubah, lebih berupaya sehat demi Tisha," imbuh Toety.

Kondisi fisik Tisha sekarang membuatnya menjadi harus ekstrawaspada dengan segala hal, terutama yang berkait asupan, obat, serta aktivitas fisik. Setiap 4 bulan, kondisi tubuhnya harus selalu diperiksa, dengan mengirimkan hasil rontgen ke dokter di Singapura. Hal ini harus dilakukan hingga Tisha mencapai usia 5 tahun karena penyakit ini berpotensi kembali terjadi. Sejauh ini, menurut Toety, tak ada masalah berarti yang terjadi pada tubuh Tisha karena diupayakan selalu disiplin dan mengikuti saran dokter. Meski memang, perjuangan bersama anaknya ini masih terus berlanjut.

Toety dan keluarganya terus berupaya menjaga agar Tisha selalu dalam keadaan baik. Kakak Tisha pun diminta untuk selalu menjaga adiknya. Masih panjang perjalanan ke depan, karena penyakit ini membuat Tisha sedikit berbeda dari kebanyakan anak-anak. Perjalanan ini pun juga mengubah Toety, perjalanan emosi yang naik-turun sudah dilewatinya dengan suami dan keluarga. Meski sempat tegang dan mengakibatkan pergumulan di dalam batin, juga perselisihan dengan suami, keluarganya kini kian dekat dan mengambil pelajaran-pelajaran terbaik.

Bagi orangtua yang sedang mendampingi anaknya dalam menjalani pengobatan untuk penyakit, ada beberapa hal yang menurut Toety penting untuk dibagi;

- Jangan putus hubungan dengan Yang Kuasa. "Saya terus berdoa untuk kesembuhan Tisha. Selain ini juga menguatkan iman dan batin," kata Toety.

- Bangun kedekatan dengan semua orang, terutama yang berhubungan dengan Tisha. Saat ini, Toety bekerja di bagian administrasi rumah sakit di Jakarta. Hal ini memberinya akses ke dokter anak. Kesempatan ini ia gunakan untuk menjaga relasi dengan dokter anak yang bekerja di RS yang sama. Kedekatan ini mempermudah Toety untuk bertanya/konsultasi setiap saat untuk urusan kondisi Tisha.

- Terbuka dengan orang lain. "Kondisi ini sudah terjadi, tidak bisa diputarbalik. Yang ada hanya mengoptimalisasi keadaan. Saya mencoba menjaga Tisha dengan selalu lebih dulu bicara kepada orang-orang yang berkaitan dengan Tisha, seperti tetangga, guru, orangtua lain di playgroup, dan lainnya, bahwa kondisi Tisha berbeda dari anak kebanyakan. Ini otomatis membantu menjaga Tisha saat saya tidak ada di sekitarnya, selain Mbak yang menjaga Tisha," kata Toety sembari menambahkan, untuk juga menjaga komunikasi dan kedekatan dengan Mbak yang menjaga.

- Ikhlas dengan keadaan. Bertanya, marah, dan menyalahkan orang lain tak membantu banyak. Setelah sempat menuding gen tumor datang dari keluarga suami dan menyebabkan perselisihan, setelah tahu dari dokter bahwa bukan itu penyebabnya, disadari, perselisihan yang terjadi amat bisa dihindari. Ikhlas dengan keadaan dan jalani apa yang ada menjadi pilihan Toety dan keluarganya.

- Selalu berpikir positif dan tidak menelan omongan yang tidak sedap. Tak perlu tambahan beban dengan memikirkan pandangan/kata-kata miring orang lain. Daya dan tenaga yang ada malah bisa habis percuma.

- Coba untuk meriset dan menambah pengetahuan sendiri. Internet, buku, dokter lain, keluarga, teman, dan orang-orang lain bisa menjadi sumber bahan tambahan pengetahuan, namun jangan dilahap semuanya. "Saya pernah ditawari obat-obatan alternatif, tapi saya memilih jalur medis dan percaya dengan dokter. Khawatir terjadi komplikasi yang malah bisa membuat pengobatan kembali ke awal, saya tak mau ambil risiko. Jadi saya menjalani yang dianjurkan dokter," kata Toety. Hal ini juga termasuk dalam urusan menu makanan dan cara memasak yang sehat.

- Persiapkan diri untuk menjelaskan kepada Tisha mengenai kondisinya. Beritahu ia secara perlahan, beri pengertian mengenai kondisinya secara perlahan.

- Bila ingin, menangislah. Diakui Toety, selama menjalani hal ini, ia kerap menitikkan air mata. Melihat anak mengalami perjuangan berat melawan penyakit tentu bukan hal mudah bagi orangtua. Menangis bila ingin melegakan dada, bukan hal yang salah, tetapi harus kembali kuat untuk si kecil.


Bangkit dari Keterpurukan untuk Bantu Perempuan Waspada Kanker Payudara

Berangkat dari pengalaman kurang informasi, Rina berjanji untuk membantu orang lain dengan berbagi informasi yang ia miliki agar banyak orang aware dengan kanker payudara.

Marah, kesal, bingung, sedih, menyangkal, dan beragam emosi lain menumpuk di dalam Rina Susanti ketika ia mengetahui ada benjolan tumor di salah satu payudaranya. Dalam keadaan bingung, ia berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk mendapat pengobatan terbaik. Masalahnya, tak semua informasi bisa dipercaya. Ingin semua perempuan bisa mendapat akses informasi yang benar dan komprehensif, Rina berbagi ide dan berusaha mewujudkan mimpinya agar makin banyak perempuan lebih aware dengan kondisi tubuhnya, terutama untuk kanker payudara.

Di tahun 2010, saat memanjakan diri di salon dengan pijat lulur, Rina diberitahu terapisnya bahwa ada benjolan di payudaranya. Meski dalam keadaan kaget, Rina mencoba mencari informasi dan mencari tahu bagaimana cara memeriksakan diri.

"Saat itu saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasi yang tepat ke mana harus berobat, di mana rumah sakit atau tempat untuk memeriksakan diri, bagaimana cara memeriksa yang benar, berapa biaya yang harus dipersiapkan, adakah tempat yang dapat memeriksakan deteksi dini dengan harga terjangkau, dan sebagainya," kata Rina kepada Beritasatu.com pertengahan minggu ini saat dijumpai di Jakarta Barat.

Pada akhirnya Rina mendapat informasi untuk memeriksakan diri di Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Ternyata benar, ada tumor dengan diameter 1 cm di payudaranya. Meski sempat takut dan ragu, juga merasa terpuruk namun dorongan keluarga dan keinginan untuk sembuh membuatnya yakin untuk menjalani operasi. Operasi pun berhasil berjalan lancar.

Dari sini Rina merasa, betapa informasi tentang penyakit yang ia alami masih minim dan belum menjangkau banyak orang. Seiring penyembuhannya, Rina yang juga adalah seorang farmasis/apoteker berlisensi berpikir mengenai perempuan-perempuan lain yang punya masalah mirip dengannya tetapi tidak punya akses informasi. Ia pun bermimpi untuk bisa membantu memberi informasi kepada orang banyak tentang informasi yang ia miliki lewat jalur yang semua orang miliki; ponsel.

"Mengetahui ada tumor di payudara saya merupakan titik terendah dalam hidup saya. Enggak ada yang lebih rendah, sehingga satu-satunya jalan hanya bangkit. Saya jadi berpikir untuk mengubah diri agar bisa lebih bermanfaat bagi orang lain. Bermanfaat bagi orang lain tidak harus dalam perkara besar, yang kecil juga bisa. Saya ingin ajak orang lebih tahu dan waspada dengan penyakit ini. Hidup sangat berarti ketika bisa berguna untuk orang lain," tutur Rina.

Saat lulus sekolah farmasi, Rina berjanji untuk memberi layanan terbaik kepada masyarakat. Janji itu menetap di dalam dirinya dan kemudian menjadi mimpi yang berwujud kenyataan.

"Saya berjanji untuk berbagi pengetahuan tentang obat seusai sekolah farmasi. Saya sebagai apoteker juga harus memberi pharmaceutical care untuk masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan. Yang saya pelajari, kita harus bermanfaat untuk orang lain dengan berbagai macam keadaan, agar berguna untuk orang lain. Saya kebetulan biasa menulis, jadi sejak beberapa tahun lalu saya sering berbagi tulisan seputar obat-obatan dan kesehatan lewat blog. Sampai satu hari, setelah operasi, saya menuliskan mimpi saya untuk berbagi informasi lebih banyak kepada masyarakat tentang waspada kanker payudara," jelas pemilik blog Tukangobatbersahaja.com ini.

Di tahun 2010, Rina mendengar mengenai lomba menulis ide seputar akses kepada kesehatan yang lebih baik untuk masyarakat yang digelar produsen alat-alat kesehatan, makanan, dan peralatan rumah, Philips. Ajang itu bernama The + Project.

Awalnya sekadar bertutur tentang pengalamannya dan mimpinya agar lebih banyak yang waspada terhadap kanker payudara, yakni dengan menciptakan aplikasi ponsel agar bisa langsung terhubung dengan informasi seputar itu, idenya pun disambut baik oleh Philips. Ide pembuatan aplikasi Spot It Yourself dari Rina menjadi juara pertama untuk kategori ide akses ke kesehatan.

Utamanya, ajang The + Project ini merupakan bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan tadi untuk membantu masyarakat. Karenanya, ide-ide dari para pemenang, dimodali 50 ribu dolar AS, harus diwujudkan. Akhirnya, setelah perjalanan panjang selama 2 tahun pembuatan aplikasi, akhir November lalu, terwujudlah mimpi Rina.

"Akhir bulan November lalu, ide Spot It Yourself itu terwujud. Aplikasi ini sebagai akses informasi seputar kanker payudara, seperti bagaimana cara melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri), kapan saat yang tepat memeriksa, beda tumor dan kanker, konsultasi, dan sebagainya itu sudah bisa di-download di ponsel-ponsel touchscreen. Nanti, akhir bulan ini (Desember 2012), sudah bisa diunduh juga di ponsel jenis apa pun yang bisa terhubung ke internet. Jadi para perempuan maupun lelaki, bisa punya akses menuju informasi komprehensif tentang kanker payudara," jelas perempuan yang menjabat Business Unit Manager di sebuah perusahaan distribusi bahan kimia di Jakarta ini.

Untuk idenya ini, Rina mengaku ini bukan hanya program CSR dari Philips, tetapi juga CSR dari dirinya sendiri. "Saya tidak minta royalti atau uang atas ide yang terwujud ini. Uang hadiah itu sepenuhnya untuk perwujudan ide ini. Saya juga tidak mencari ketenaran. Saya hanya merasa senang bila ada orang yang terbantu dari informasi yang saya berikan. Saya merasakan itu dari tanggapan apresiasi pembaca di blog saya, terutama tulisan-tulisan tentang kesehatan. Semoga dari makin banyak orang yang mengunduh aplikasi ini, makin banyak yang mau aware dengan kondisi payudara mereka. Saya juga minta supaya bisa mengisi kolom di sana. Ini CSR dari saya pribadi," tutur Rina.

Proyek ini, kata Rina, adalah salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat betapa pentingnya deteksi dini terhadap kanker payudara di Indonesia. "Saya bersyukur mengetahui sejak dini adanya benjolan dipayudara yang ternyata tumor jinak dan segera dioperasi. Kalau saya sampai terlambat maka biaya yang saya keluarkan akan semakin besar dan peluang kesembuhan kecil. Bukan tidak mungkin kalo sampai terlambat tumor ini bisa menjadi kanker yang berbahaya. Untuk itu penting sekali untuk sebuah deteksi dini, lebih dini lebih baik," kata Rina.

Melengkapi kebahagiaan terwujudnya mimpi idenya ini kian lengkap dengan akan berakhirnya masa lajang Rina di akhir bulan ini. Di antara kesibukannya menjadi pemimpin unit kerja di perusahaan tempatnya bekerja, menyusun pernikahan, serta mengisi blog dan menjawab pertanyaan di blog tentang kesehatannya, Rina kini tetap menjaga kondisi tubuhnya sambil terus memantau kesehatannya.

Untuk mengunduh aplikasi ini di bisa dilakukan di
http://bit.ly/spotityourself untuk ponsel-ponsel tertentu.


Berita Satu

Thursday, October 25, 2012

Ketika Penerbangan Kacau Akibat Radar Bandara Mati

 "Cuma" mati 15 menit, dua pesawat nyaris tabrakan. 

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2011/03/16/106934_terminal-ii-bandara-internasional-soekarno-hatta--di-tangerang--banten_209_157.jpgCengkareng - Minggu sore, 16 Desember 2012, Twitterland ramai dengan keluhan para penumpang pesawat menuju dan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Pasalnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami keterlambatan, tak peduli maskapai penerbangan apa itu. Sedikitnya 46 penerbangan molor jadwalnya.

Semua itu ternyata karena radar di Bandara Soekarno-Hatta mati akibat terbakarnya perangkat Uninterruptible Power Supply (UPS). UPS adalah perangkat pendukung pasokan energi listrik ke jaringan komputer yang berfungsi untuk memandu pesawat di bandara.

Saat ini PT Angkasa Pura II masih menginvestigasi dan menelusuri penyebab terbakarnya UPS itu. Sekretaris Korporat PT Angkasa Pura II, Trisno Heryadi, menyatakan manajemen PT Angkasa Pura II sesungguhnya telah memprogramkan pengadaan UPS baru. Namun saat ini UPS baru itu masih dalam proses pengiriman dari Jerman.

UPS baru itu diperkirakan tiba di Indonesia pada pertengahan Januari 2013. “Namun di luar dugaan, UPS yang ada saat ini mengalami masalah sebelum UPS yang baru tiba,” ujar Trisno.

Hal ini dibenarkan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S. Ervan. “Angkasa Pura II sudah membeli UPS baru yang awal tahun depan datang dari Jerman. Tapi sebelum diganti, UPS yang dipakai sekarang sudah terbakar duluan,” kata Bambang.

Kementerian Perhubungan menyerahkan sepenuhnya penyelidikan soal insiden tersebut kepada Angkasa Pura II.

Berdasarkan laporan yang diterima Kementerian Perhubungan, radar Bandara Soekarno-Hatta mati selama 15 menit akibat UPS utama terbakar. Sistem yang seharusnya secara otomatis mengalihkan listrik ke UPS cadangan tidak berfungsi karena switch UPS juga ikut terbakar.

Angkasa Pura pun meminta maaf atas insiden itu itu. “Kami terus melakukan penyempurnaan agar pelayanan tidak terganggu kembali. Manajemen PT Angkasa Pura II meminta maaf kepada seluruh pengguna jasa dan mitra kerja atas ketidaknyamanan yang terjadi,” kata Trisno.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan perlunya investigasi menyeluruh atas terbakarnya UPS Bandara Soekarno-Hatta itu. “Saya sudah meminta agar perangkat di Bandara Soekarno-Hatta dimodernisasi, karena pendaratan pesawat di situ sudah sangat padat. Kita harus waspada tinggi dan menjaga keamanan,” kata dia.

Nyaris tabrakan

Hatta juga mengungkapkan, matinya radar di Bandara Soekarno-Hatta nyaris menelan korban nyawa. “Hampir terjadi persinggungan (tabrakan) antara dua pesawat, Lion dengan Lion. Lion kemudian return to base (kembali ke bandara semula),” kata Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu.

Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait, mengaku belum mendapat laporan soal dua pesawat maskapainya yang nyaris tabrakan itu. “Biasanya pilot langsung lapor ke manajemen. Itu rahasia menara ATC (Air Traffic Control),” kata dia.

Peristiwa radar mati di Bandara Soekarno-Hatta sesungguhnya terjadi tak terlalu lama, yaitu 15 menit. Selama 15 menit itu, pengoperasian di bandara dilakukan secara manual. Meski demikian, kata Hatta, “Lima belas menit black out (mati) itu merupakan waktu yang panjang di udara,” ujarnya.

Hatta mengingatkan, peristiwa radar mati memang tidak menimbulkan kerugian materi yang terlalu besar. Namun dalam dunia penerbangan, hal seperti itu sangat mengerikan dan tidak boleh terjadi. Hal itu tak hanya mengancam nyawa penumpang pesawat di udara, tapi juga berpotensi mengganggu kestabilan perekonomian nasional.

Secara terpisah, anggota Komisi V Bidang Perhubungan DPR RI Arwani Thomafi mengatakan komisinya akan menanyakan insiden tersebut dalam rapat kerja dengan Kementerian Perhubungan usai reses nanti.

“Sangat memalukan bandara sekelas Cengkareng tidak punya cadangan power yang bisa menjaga sistem tidak down. Seharusnya penyelenggara ATC memiliki teknologi yang dapat meminimalisir berulangnya kejadian serupa,” kata politisi Partai Persatuan Pembangunan itu.

Anggota Komisi V lainnya, Saleh Husein, mengatakan Bandara Soekarno-Hatta merupakan pintu utama penerbangan internasional di Indonesia dengan kepadatan penerbangan yang tinggi. Maka jika radar mati, harus segera diantisipasi dalam hitungan menit. “Tapi ini justru membutuhkan waktu sekian jam. Ini tentu menurunkan citra Indonesia di mata internasional,” kata politisi Hanura itu.

Penerbangan kacau

Angkasa Pura II menjelaskan, UPS di Bandara Soekarno-Hatta terbakar sekitar pukul 16.55 WIB, Minggu 16 Desember 2012. “Terbakarnya perangkat UPS mengakibatkan gangguan pada sistem pemanduan otomatis Jakarta Automated Air Traffic System (JAATS) dan membuat sistem tidak dapat bekerja selama 15 menit,” kata Sekretaris Korporat PT Angkasa Pura II, Trisno Heryadi.

Lima belas menit kemudian, pukul 17.10 WIB, pasokan listrik terhadap perangkat pemanduan otomatis JAATS pulih. JAATS pun melakukan proses start-up dan me-recover seluruh data penerbangan. Di tahap ini, sistem butuh waktu agar dapat beroperasi normal.

Pukul 18.05 WIB, sistem berhasil pulih total, dan menara kontrol membuka kegiatan lepas landas dan pendaratan secara bertahap. “Pukul 19.15, seluruh kegiatan operasional penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta normal kembali, sampai saat ini,” ujar Trisno.

Seluruh penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta kemarin sore pun terkena dampaknya. Jadwal pesawat domestik maupun luar negeri AirAsia mengalami keterlambatan selama 1-2,5 jam. Chief Operation Officer Indonesia AirAsia, Ridzki Kramadibrata, menyatakan sebelum radar mati, semua jadwal penerbangan AirAsia dari pagi hingga siang cukup tepat waktu.

Sementara itu, Sriwijaya Air terpaksa mengalihkan satu pesawatnya dari Tanjung Pandan menuju Bandara Soekarno-Hatta, ke Pangkal Pinang. Satu pesawat dari Batam yang seharusnya terbang menuju Soekarno-Hatta ditunda karena tidak mendapatkan izin terbang dari otoritas penerbangan.

General Manager Air Traffic Services Bandara Soekarno-Hatta, Budi Hendro, menyatakan dari 46 penerbangan yang mengalami keterlambatan, 25 pesawat di antaranya akan lepas landas dari Bandara Soetta, dan 21 pesawat lainnya akan mendarat.

Gangguan di Bandara Soetta pun berimbas ke bandara lain. Di Bandara Juanda, Surabaya, misalnya tercatat lebih dari 30 penerbangan mengalami keterlambatan. Staf Humas Bandara Juanda, Suryo, mengatakan sekitar 20 pesawat dari Juanda ke Soetta terlambat, dan sekitar 15 pesawat dari Soetta menuju Juanda juga terlambat.

Penerbangan dari Makassar ke Jakarta pun terpaksa dialihkan ke Bandara Juanda. Demikian juga dengan penerbangan Bali ke Jakarta yang dialihkan ke Surabaya karena insiden matinya radar Bandara Soetta. Pengelola bandara belum memastikan berapa kerugian akibat urusan UPS mati ini.


© VIVA.co.I'd
Memalukan ...

Thursday, September 13, 2012

Sebelum Meledak, Pilot Sukhoi Ngobrol

The wreckage of a Russian Sukhoi aircraft is scattered on Mount Salak near BogorJakarta Setelah 9 bulan pesawat Sukhoi mengalami kecelakaan, akhirnya  Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Selasa siang (18/12/2012)  mengumumkan penyebab jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang meledak di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, pada  9 Mei 2012.

Ketua KNKT Tatang Kurniadi dalam keterangan pers, di Kantor KNKT mengatakan, jatuhnya pesawat naas yang tengah melakukan joyflight atau demo terbang tersebut akibat kesalahan manusia atau human error.

Tatang mengungkapkan dari rekaman kotak hitam yang telah diselidiki, pilot pesawat asal Rusia itu diketahui menjelang detik kecelakaan sedang mengobrol. “Karena mengobrol pilot tidak focus dan mengabaikan peringatan sehingga pilot tidak mengubah (jalur) pesawat yang telah keluar dari orbit,” terang Tatang. “Harusnya pilot itu konsentrasi.”

Tidak hanya itu, pilot juga mengabaikan peringatan Terrain Awareness and warning system (TWSA) yaitu alat pencegahan tabrakan yang sudah berbunyi 6 kali.

Pilot mengira ada masalah data base sehingga alat itu justru dimatikan, padahal justru memperingatkan ada benda yang akan menabrak pesawat. “TAWS mengirimkan peringatan ‘terrain ahead’ (ada daratan di depan) sebelum tabrakan, diikuti oleh 6 peringatan ‘avoid terrain’. Pilot In Command mematikan TAWS karena berasumsi bahwa ada masalah database,” lanjut Tatang Kurniadi.

Selain itu, hasil investigasi juga diketahui pesawat tersebut tidak dilengkapi peta area Bogor sehingga tidak bisa membaca medan. “Tak hanya itu, awak pesawat juga mengabaikan peringatan petugas pengatur lalu lintas udara,” cerita Tatang.

Selain itu, kata Tatang, ada KNKT menganalisa data kotak hitam yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) yang berisi 471 parameter selama 150 jam terbang, termasuk rekaman 22 menit terakhir saat kecelakaan. Ada 11 temuan KNKT yang dirilis di situs resmi KNKT di antaranya, rute penerbangan direncanakan bukanlah rute udara resmi yang diterbitkan.

Sedangkan investigator anggota Kapten Nurcahyo mengatakan tabrakan bisa dihindari apabila setelah 24 detik pilot belok kiri sesuai warning TAWS dan itu masih berfungsi dengan benar.

Seperti diketahui pesawat sukhoi ini meledak di Gunung Salak mengakibatkan 45 penumpang tewas. Diantaranya 35 orang warga negara Indonesia dan 10 warga negara asing, sedangkan pesawat terbelah dua.(dwi/sir)


Poskota